Feature News
Kisah Hebat Mbah Sadiman, Pahlawan Penghijauan dari Wonogiri
22 Desember 2022, 12.00 WIB
Oleh : Klara Ayu Purnomo dan Anggota
Wonogiri - Hari itu pagi masih gelap. Setelah azan subuh, Mbah Sadiman
sudah beranjak dari kamarnya. Kakek dua cucu ini sudah bersiap-siap menuju
untuk memanen cabai di ladangnya. Ia bersyukur, pagi itu sekarung cabai
berhasil dipanennya dan langsung dijual ke pasar terdekat. Maklum, untuk
menghidupi keluarga dan anak-anaknya, Mbah Sadiman sampai saat ini masih
mengandalkan sebagai petani. Kendati hidup pas-pasan, perjuangan kakek
berjenggot untuk menghijaukan lereng Gunung Lawu tak pernah padam.
Uang hasil
panen acap kali digunakan Mbah Sadiman untuk pembelian bibit dan biaya
perawatan pohon-pohon beringinnya yang sudah ditanam di lereng Gunung Lawu.
Bahkan, saat awal menanam pohon beringin, Mbah Sadiman sampai menukar bibit
cengkeh yang dimiliki dengan bibit beringin. Ulah Mbah Sadiman pun dinilai
banyak warga sebagai hal yang aneh. Pasalnya, dari aspek pendapatan, menanam
cengkeh akan jauh lebih mendatangkan banyak keuntungan dibandingkan menanam
pohon beringin.
“Saat itu banyak bibit cengkeh saya tukar dengan bibit pohon beringin. Tiga
bibit pohon cengkeh saya tukar dengan satu bibit pohon beringin,” jelas Mbah
Sadiman. Mbah Sadiman pun selalu menyisihkan hasil penjualan bibit cengkeh dan
rumput di pasar untuk membeli bibit ringin tanpa sepengetahuan anak dan
istrinya. Saat awal mula penanaman di hutan lereng Gunung Lawu, keluarga Mbah
Sadiman tidak mengetahui. Keluarga tahu setelah banyak media yang memberitakan
keberhasilan Mbah Sadiman menghijaukan hutan di lereng Gunung Lawu.
Meski
dicibir banyak warga, Mbah Sadiman tak ambil pusing. Baginya, menanam satu
pohon beringin kelak nanti akan banyak bermanfaat bagi banyak orang. Terlebih
lagi, saat itu warga masih kesusahan mendapatkan air bersih karena hutan
gundul. “Saya berpikir kalau tanam pohon beringin akan banyak manfaatnya bagi
banyak orang. Tetapi kalau saya tanam cengkeh maka manfaatnya yang bisa
merasakan hanya saya dan keluarga saya saja,” kata Mbah Sadiman.
“Banyak yang hilang
dicuri dan dicabut orang. Tetapi tidak apa-apa saya ikhlas. Saya tanam kembali
sampai pohon itu tumbuh besar dan bermanfaat bagi banyak orang,” kata Mbah
Sadiman. Tak hanya dari berjualan bibit cengkeh, setelah dinobatkan sebagai
pahlawan penghijauan, Mbah Sadiman acap kali mendapatkan bantuan dari bank
milik pemerintah hingga pegiat lingkungan. Bantuan yang didapatkan itu justru
malah lebih banyak digunakan untuk membayar orang membersihkan rerumputan yang
menutup pohon beringin yang sementara tumbuh. Hanya saja, untuk menjadikan
pohon beringin memberi banyak manfaat bagi banyak orang maka harus dipastikan
pohon itu tumbuh besar. Untuk itu, dibutuhkan perawatan yang terus menerus agar
bibit pohon beringin yang ditanam di lereng Gunung Lawu tak mati sia-sia.
Menurut Mbah Sadiman, agar pohon beringin tumbuh
besar dan dapat menyimpan banyak air maka butuh perawatan seperti halnya
manusia. Selain diberikan pupuk saat masih kecil, minimal sebulan sekali
rumput yang berada disekitar pohon beringin harus dibersihkan. “Kalau tidak dibersihkan,
rumput akan tumbuh tinggi dan membuat pohon beringin mati. Jadi kalau menanam
tetapi tidak dirawat ya sama saja nanti akan mati pohonya,” jelas Mbah Sadiman.
Mbah Sadiman mengaku untuk merawat ribuan pohon beringin yang sudah tertanam di
lereng Gunung Lawu, dirinya tidak mungkin bisa melakukan sendirian. Sesekali
bila memiliki penghasilan lebih, Mbah Sadiman sering membayar orang untuk
membersihkan rerumputan yang menghalangi pertumbuhan bibit pohon beringin. Ia
khawatir bila bibit pohon beringin dibiarkan hidup tanpa perawatan, maka lambat
laun akan mati lantaran kalah bersaing dengan rerumputan di sekitarnya. Untuk
itu Mbah Sadiman sekuat tenaga memastikan pohon-pohon beringin yang ditanamnya
sejak awal tetap hidup, tumbuh dan akhirnya bermanfaat bagi banyak orang.
“Ya sekuat tenaga saya untuk merawat pohon-pohon beringin agar tetap tumbuh,
kokoh dan banyak menyimpan air. Biasanya untuk merawat pohon beringin saya
berangkat dari rumah pagi dan pulang hingga siang hari,” jelas Sadiman. Untuk
menarik minat orang merawat pohon beringin yang pernah ditanam, Mbah Sadiman
bersama warga setempat membuat taman di satu area di Lereng Gunung Lawu. Selain
ditanami pohon beringin, taman itu juga ditanami aneka tanaman hias dan
buah-buahan. “Kalau ada tanam ini, maka warga biar semangat merawatnya,” jelas
Mbah Sadiman. Mbah Sadiman khawatir banyaknya penanaman atau penghijauan
di lahan-lahan gundul bila tidak disertai perawatan akan lebih banyak berakhir
sia-sia.
Lambat laun bibit tanaman itu akan mati dengan sendirinya lantaran
kalah dengan rerumputan yang berada sekitarnya. Untuk itu, perawatan
yang berkelanjutan menjadi salah satu kunci agar pohon-pohon beringin yang
ditanam itu mampu tumbuh besar dan kokoh sehingga dapat menyimpan banyak air.
Ia bercerita beberapa daerah di kecamatan lain banyak pohon beringin yang mati
karena tidak dirawat. Padahal pohon itu sudah mulai tumbuh besar dan
berkembang. Tak hanya itu, beberapa kelompok juga beberapa kali melakukan
penanaman serentak di lereng Gunung Lawu. Namun penanaman kelompok itu menjadi
tak berarti karena banyaknya bibit yang mati. “Kalau hanya tanam saja kemudian
ditinggal dan tidak dirawat pasti akan banyak yang mati. Terlebih kalau musim
hujan begini, pasti bibit tanaman akan kalah dengan tumbuh liarnya rerumputan,”
tandas Mbah Sadiman.
Mbah Sadiman berharap, warga yang ingin menanam pohon
beringin harus diikuti dengan pola perawatan yang berkala. Dengan demikian,
pohon itu akan tumbuh dan akhirnya bermanfaat bagi banyak orang.



0 comments:
Post a Comment